Ribuan jarak waktu telah aku tapaki
Namun Rinduku selalu membelenggu
Sebuah rahasia bathin
Tak akan pernah bisa aku pungkiri
Menggelembungkan hasrat
Ingin ku sibak naluri hatiku yang fana
Menjuntaikan rinduku di setiap kalimat
Meluruhkan Asa pada setiap bentang waktu
Rabu, 18 Januari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
Catatan Harian ke -38
Aku akan katakan padamu sebuah kebenaran
Tentang perasaan cinta yang berkepanjangan
Membelenggu raga dan perasaan
Melumpuhkan imaginasi
Meletakan kelelahan pada sudut hati
Tak pernah ada kata bimbang.
Walau ribuan badai ulahmu menyudutkanku
Pada situasi yang sulit...namun
Ketegaran bathinku adalah penjelasan tanpa kata
Berjuta harap sudah aku labuhkan
Menjunjung lingkaran rindu yang tertanam
Kokoh berakar pada bait hati
Seandainya saat ini ingin kamu temui aku
Pada dermaga rindu..
Ketuklah dan bukalah pintu hatimu
Aku akan ada di sana dengan sejuta Asa
Hanya ada senyum yang bisa aku urai
Membimbingmu meniti rindu
Pada Ruang di mana rindu telah berpatri.
Senin, 02 Januari 2012
Catatan harian ke 37
Tampang lusuhmu dapat aku baca
Dapatkah kamu bercerita
Hanya untuk berbagi ...
Mengurangi beban dan penatnya hatimu
Coba lihatlah bilik hatimu yang lelah
Menggelembungkan hasratku
Hingga mengerut Nuranimu
Biarkan sejengkal kesedihanmu kita jatuhkan
Perlahan.....perlahan......
Agar bisa dapat kurasakan hangat senyummu
Menangislah di pundakku
Hingga kering air mata sedih mu
Dan ku usapkan perlahan Air mata kesedihan terdalam
Lepaskan penatmu
Hingga Hanya dapat tergantikan oleh tawa
Aku ingin kembalikan keceriaan mu
Saat rentang tanganku ingin menggapaimu
Agar dapat kamu rasakan ke tenangan
Minggu, 01 Januari 2012
Catatan ke - 36
Menyapamu hanya lewat mimpi
pada puing rindu
di kedalaman hati yang tak pernah aku ukur
Nuansa hatimu masih tetap sama tak ubah
Tanpa expresi, datar, Dingin dan kaku.
Ribuan mil perjalanan cintaku,
Tak pernah meninggalkan bekas yang dalam
Hampa tak ada secuilpun tersisa.
bila saja rentang waktu yang panjang itu
kuisi dengan goresan pena hati,
yang selalu bercerita
Harapan dan Do'a ku di cinta pertamaku.
Seutas tali, raga sukma yang kerontang
Menjelmakan haus akan kasihmu
menjerit, letih, teronggok seperti,
Sekumpulan daun kering yang siap membusuk
itulah ragaku....
Pada pertikaian hati.....
Mencoba bangkit dan lari dari kenyataan
Tak pernah berujung pada waktu
Mengingat mu adalah Dilema bagiku,
Melepas kan mu adalah kematian bagiku,
pada puing rindu
di kedalaman hati yang tak pernah aku ukur
Nuansa hatimu masih tetap sama tak ubah
Tanpa expresi, datar, Dingin dan kaku.
Ribuan mil perjalanan cintaku,
Tak pernah meninggalkan bekas yang dalam
Hampa tak ada secuilpun tersisa.
bila saja rentang waktu yang panjang itu
kuisi dengan goresan pena hati,
yang selalu bercerita
Harapan dan Do'a ku di cinta pertamaku.
Seutas tali, raga sukma yang kerontang
Menjelmakan haus akan kasihmu
menjerit, letih, teronggok seperti,
Sekumpulan daun kering yang siap membusuk
itulah ragaku....
Pada pertikaian hati.....
Mencoba bangkit dan lari dari kenyataan
Tak pernah berujung pada waktu
Mengingat mu adalah Dilema bagiku,
Melepas kan mu adalah kematian bagiku,
Langganan:
Postingan (Atom)