Sabtu, 05 April 2014

cerita hujan

Mendera dingin saat Hujan
Basah perlahan
Aku menggigil dingin
Ada rasa hampa pada jiwa.
Kosong pada rasa..
Aku perlukan hangatmu
Jika saja kau nyata hadir
Aku selalu ingin didekapmu..
Akan aku biarkan tubuhku lunglai
Karena keyakinanku pada takdirku...
Dingin tetap saja menyelimuti sukmaku
Perlahan dalam dingin.
Saat hujan
Tak pernah aku dapati dirimu
Walau dalam imaginasiku.

Kamis, 27 Maret 2014

Jiwa yang letih

Ketika ragaku mati
Jiwa lelahku menelantarkan ragaku
Kaku....
Setiap ujung waktu yang aku lewati
Ingin aku berhenti
Diam sejenak biar berlalu
Di titik nadir
Bisu
Hening
Diam
.............

Rabu, 12 Maret 2014

Jiwa yang rapuh

Seutas ragu bersemayam kelam
Menapak ujung hati yang karam
Pada titik nadir aku berucap
Lelah hati.....Lelah jiwa
Menelantarkan sang waktu
Menjumput asa di penghujung ragu
Mengusap malam tanpa  sisa
Pada setiap jemari hati yang menyimpan tanya
Bila sang waktu berucap
Ingin aku tuangkan seutas rindu
Mengukur waktu yang berputar
Jika ragaku lunglai tanpa rasa
Aku akan tetap menunggu asa
Agar fatamorgana jiwaku tak lagi kelam

Minggu, 02 Maret 2014

letih

Ku renda jemari hati
Menapakan perih luka yang telah kau toreh
Kamu yang berlalu tanpa kata meninggalkan seberkas luka
Dalam dan perih
Tapi ada saja sejuta maaf yang aku simpan
Aku menunggu sang waktu
Jika luka yang aku rajut
Tetap meninggalkan bekas
Hanya ingin aku ingatkan padamu
Berhenti melukaiku
Pergilah bersama sang bayu
Berlalulah menjauhlah

Selasa, 18 Februari 2014

labirin rindu

Akan ku simpan rapat rinduku
Ketika rindu rinduku luruh tersapu bayu
hingga ribuan janji yang kau patri di hatiku 
Menguntit semua dilema di hidupku yang kelu

Jika labirin hati yang merah jingga menuai luka 
Kali ini kubungkus rapi semua kata kata,
Dan semua janji janji yg pernah kau sematkan 

ijinkan selembar asa......
Menjunjung di langit-langit ingatan ku 
Memaku kaku tersiram di langit langit merah saga
sebelum malam menjemput.





Minggu, 02 Februari 2014

Puing Rindu

Seonggok pasir tersapu ombak
dan ketika burung putih pulang ke peraduannya
dan ketika mentari mulai tenggelam
aku di hamparan laut yang membiru
hanya bisa terpaku
menatap jauh
rinduku yang tak tersampaikan
jika saja hembusan angin yang menerpa wajahku
Ingin aku menitip sejumput rinduku
agar bisa kau dengar dalam setiap jengkal penantianku
dalam setiap lelahnya jiwa

Kamis, 16 Januari 2014

Jika

Sembilu yang kau sayat di dagingku
Tak seperih kau sayatkan luka di hatiku
Pedih aku menahan luka
Jika saja kau mengerti
Purnama yang padam seketika
Karena gulungan awan tebal yang bertandang
Tak segelap mata batinku
Jika saja kau pahami
Ijinkan aku membuai malam bersama waktu
Meluruhkan kepedihan
Meluruhkan kepenatan
Meluruhkan kepahitan
Meluruhkan kejemuan
Jika saja kau rasakan